"Bila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan kepadanya"
(HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasai)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Thursday, September 4, 2014

Rekening Atas Nama Usman bin Affan radhiyallahu 'anhu

هل تعلم ان عثمان بن عفان يملك حساب في احدى البنوك في السعودية
قصه حقيقية
.............…….....................
ماهي قصة فندق عثمان بن عفان رضي الله عنه الذي يتم بناؤه بجوار المسجد النبوي?
هل هناك ورثة لعثمان يبنون هذا الفندق باسمه? اقرأوا القصة لعلنا نتعلم !!
بعد الهجرة وزيادة اعداد المسلمين زاد الاحتياج الي الماء !!
وكان بئر رومة من اكبر الابار وهو المورد الرئيسي للماء بالمدينة إلا أن هذه البئر يملكها يهودي مستغل بمعني الكلمة وهو يبيع الماء بيعاً ولو بالقطرة.
فلما علم عثمان رضي الله عنه بالقصة ذهب إلى اليهودي وأخبره أنه يريد أن يشتري منه البئر فرفض اليهودي فعرض عثمان ان يشتري نصف البئر فيكون يوماً له ويوماً لليهودي يبيع منه، فوافق علي اساس ان عثمان تاجر شاطر وسيرفع سعر الماء فيزداد مكسب اليهودي!
لكن حدث العكس فقد قل الطلب علي الماء حتي انعدم تماما فتعجب اليهودي وبحث عن السبب فاكتشف ان عثمان جعل يومه لوجه الله يأخذ فيه الناس حاجتهم دون مقابل
فأصبح الناس يشربون جميعاً في يوم عثمان ولا يذهبون للبئر في يوم اليهودي، فشعر  اليهودي بالخسارة وذهب إلى عثمان  رضي الله عنه وقال له أتشتري باقي البئر فوافق عثمان واشتراه مقابل ٢٠ ألف درهم وأوقفه لله تعالى يشرب منه المسلمون .
بعد فترة جاءه أحد الصحابة وعرض على عثمان بن عفان رضي الله عنه أن يشتري منه البئر بضعفي سعره فقال عثمان عرض علي أكثر، فقال أعطيك ثلاثة أضعاف فقال عثمان عرض علي أكثر حتى وصل إلى تسعة أضعاف فرفض عثمان فاستغرب الصحابي وقال لا يوجد مشتر غيري فمن هذا الذي أعطاك أكثر مني? فقال عثمان الله !! أعطاني الحسنة بعشرة أمثالها.
لقد أوقف عثمان البئر للمسلمين وبعد فترة من الزمن أصبحت النخيل تنمو حول هذه البئر، فاعتنت به الدولة العثمانية حتى كبر، وبعدها جاءت الدولة السعودية واعتنت به أيضا حتى وصل عدد النخيل ما يقارب ١٥٥٠ نخلة.
فأصبحت الدولة ممثلة في وزارة الزراعة تبيع التمر بالأسواق وما يأتي منه من إيراد يوزع نصفه على الأيتام والمساكين والنصف الأخر يوضع في في البنك في حساب باسم عثمان بن عفان تديره وزارة الأوقاف.
وهكذا زكا المال ونما حتي أصبح في البنك ما يكفي من أموال لشراء قطعة أرض في المنطقة المركزية المجاورة للحرم النبوي !! بعد ذلك تم الشروع ببناء عمارة فندقية كبيرة من هذا الإيراد أيضا.
البناء في مراحله النهائية الان وسوف يتم تأجيره لشركة فندقية من فئة الخمس نجوم ومن المتوقع أن تأتي بإيراد سنوي يقارب ٥٠ مليون ريال سعودي، نصفها للأيتام والمساكين ونصفها في حساب عثمان رضي الله عنه في البنك ، والجميل والعجيب ان الأرض مسجلة رسميا بالبلدية باسم عثمان بن عفان ، سبحان الله هذه تجارة مع الله بدأت واستمرت طوال 14 قرنا فكم يكون ثوابها?
لذلك قال الرسول عليه الصلاة والسلام " لكل نبي رفيق ورفيقي في الجنة عثمان "
تستاهل القرًأه  والاهداء لكل من تحب
يااارب اكتب الأجر لي ولكل من ارسل هذه المعلومة اضعافا اضعافا..آمين


(Sebuah Kisah Nyata)

Rekening Atas Nama Usman bin Affan radhiyallahu 'anhu

1. Mungkin tak pernah terbayang oleh siapa pun, bila ada satu bank di Saudi Arabia yang sampai saat ini menyimpan rekening atas nama USMAN BIN AFFAN.

2. Apa kisah sebenarnya di balik pembangunan hotel 'Usman bin Affan Ra' yang saat ini sedang di bangun dekat Masjid Nabawi?
Apakah ada anak cucu keturunan Usman saat ini yang membangunnya atas nama moyang mereka?
Penasaran? Ikuti kisahnya berikut ini. Barangkali kita dapat mengambil pelajaran.

3. Setelah hijrah, jumlah kaum Muslimin di Madinah semakin bertambah banyak. Salah satu kebutuhan dasar yang mendesak adalah ketersediaan air jernih.

4. Kala itu sumur terbesar dan terbaik adalah Bi'ru Rumah, milik seorang Yahudi pelit dan oportunis. Dia hanya mau berbagi air sumurnya itu secara jual beli.

5. Mengetahui hal itu, Usman bin Affan mendatangi si Yahudi dan membeli 'setengah' air sumur Rumah. Usman lalu mewakafkannya untuk keperluan kaum Muslimin.

6. Dengan semakin bertambahnya penduduk  Muslim, kebutuhan akan air jernih pun kian meningkat. Karena itu, Usman pun akhirnya membeli 'sisa' air sumur Rumah dengan harga keseluruhan 20.000 dirham (kl. Rp. 5 M). Untuk kali ini pun Usman kembali mewakafkannya untuk kaum Muslimin.

7. Singkat cerita, pada masa-masa berikutnya, wakaf Usman bin Affan terus berkembang. Bermula dari sumur terus melebar menjadi kebun nan luas.
Kebun wakaf Usman dirawat dengan baik semasa pemerintahan Daulah Usmaniyah (Turki Usmani).

8. Setelah Kerajaan Saudi Arabia berdiri, perawatan berjalan semakin baik. Alhasil, di kebun tersebut tumbuh sekitar 1550 pohon kurma.

9. Kerajaan Saudi, melalui Kementrian Pertanian, mengelola hasil kebun wakaf Usman tersebut. Uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua; setengahnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Usman bin Affan.

10. Rekening atas nama Usman tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf.
Dengan begitu 'kekayaan' Usman bin Affan yang tersimpan di bank terus bertambah. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi.

11. Di atas tanah tersebut, saat ini tengah dibangun sebuah hotel berbintang lima dengan dana masih dari 'rekening' Usman.
Pembangunan hotel tersebut kini sudah masuk tahap akhir. Rencananya, hotel 'Usman bin Affan' tersebut akan disewakan kepada sebuah perusahaan pengelola hotel ternama.

12. Melalui kontrak sewa ini, income tahunan yang diperkirakan akan diraih mencapai lebih 50 juta Riyal (lebih Rp. 150 M).
Pengelolaan penghasilan tersebut akan tetap sama. Separuhnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di 'rekening' Usman bin Affan.

13. Uniknya, tanah yang digunakan untuk membangun hotel tersebut tercatat pada Dinas Tata Kota Madinah atas nama Usman bin Affan.

14. Masya Allah, saudaraku, itulah 'transaksi' Usman dengan Allah. Sebuah perdagangan di jalan Allah dan untuk Allah telah berlangsung selama lebih 1400 tahun.....berapa 'keuntungan' pahala yang terus mengalir deras kedalam pundi-pundi kebaikan Usman bin Affan di sisi Allah Swt.

The End..(Tarjamah: ust.Asep Sobari Lc)

Thursday, October 24, 2013

Mengenang Kembali Pesan-Pesan Terakhir Nabi Muhammad SAW. Pada Haji Wada'

Dari Jabir RA, dia menceritakan, bahwa selama 9 tahun tinggal di Madinah Al Munawarah, Nabi SAW belum melaksanakan haji. Kemudian pada tahun kesepuluh, beliau mengumumkan hendak melakukan ibadah haji. Maka berduyun-duyunlah orang datang ke Madinah. Semuanya ingin nderek beliau menunaikan haji.

Pada tahun itulah Nabi SAW melaksanakan ibadah haji yang terakhir setelah lama tidak berhaji. Haji ini disebut Haji Wada'. Haji perpisahan. Dalam haji ini Rasulullah SAW juga mengajarkan manasik dan sunah-sunah haji kepada orang-orang yang ikut bersama beliau.

Di tengah-tengah orang banyak yang sedang melaksanakan haji tersebut, tepatnya saat wukuf di padang 'Arafah, Nabi SAW menyampaikan khutbahnya yang juga merupakan khutbah terakhir beliau di depan khalayak umum. Di antara pesan-pesan beliau dalam khutbah itu adalah:
  • Wahai manusia, dengarkanlah apa yang hendak kukatakan! Mungkin sehabis tahun ini aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selama-lamanya.
  • Hai manusia! Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian (yakni tidak boleh dinodai oleh siapapun juga), seperti hari dan bulan suci sekarang ini, di negeri kalian ini. Ketahuilah, sesungguhnya segala bentuk perilaku dan tindakan jahiliyah tidak boleh berlaku lagi. Tindakan menuntut balas atas kematian seseorang sebagaimana yang berlaku di masa jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi. Tindak pembalasan jahiliyah seperti itu yang pertama kali kunyatakan tidak berlaku ialah tindakan pembalasan atas kematian Ibnu Rabi'ah bin Al-Harits.
  • Riba jahiliyah tidak berlaku lagi, dan riba yang pertama kunyatakan tidak berlaku adalah riba Abbas bin Abdul Muthallib. Sesungguhnya segala macam riba tidak boleh berlaku lagi.
  • Hai manusia! Di negeri kalian ini syetan telah putus harapan sama sekali untuk dapat disembah lagi. Akan tetapi dia masih menginginkan selain itu. la akan merasa puas bila kalian melakukan perbuatan yang rendah. Karena itu, hendaklah kalian jaga baik-baik agama kalian!
  • Hai manusia! Sesungguhnya, menunda berlakunya bulan suci akan menambah besarnya kekufuran. Dengan itulah orang-orang kafir menjadi tersesat. Pada tahun yang satu mereka langgar dan pada tahun yang lain mereka sucikan untuk disesuaikan dengan hitungan yang telah ditetapkan kesuciannya oleh Allah. Kemudian mereka tnenghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah.
  • Sesungguhnya, zaman berputar seperti keadaannya pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah dua belas bulan. Empat bulan diantaranya bulan-bulan suci. Tiga bulan berturut-turut; Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Bulan Rajab adalah antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya'ban.
  • Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan kaum wanita. Karena kalian mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kehormatan mereka dihalalkan bagi kalian dengan nama Allah. Sesunggguhnya kalian mempunyai hak atas para istri kalian dan mereka mempunyai hak atas kalian. Hak kalian atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang tidak kalian sukai ke dalam rumah kalian. Jika mereka malakukan hai itu, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Sedangkan hak mereka atas kalian adalah harus memberi nafkah dan pakaian kepada mereka secara baik.
  • Maka perhatikanlah perkataan itu wahai manusia. Sesungguhnya aku telah sampaikan: Aku tinggalkan sesuatu kepada kalian, yang jika kalian pegang teguh, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunah Nabihfya.
  • Wahai manusia! Dengarkanlah dan taatlah sekalipun kalian diperintah oleh seorang hamba sahaya dari Habsyah yang berhidung gruwung, selama ia menjalankan Kitabullah.
  • Berlaku baiklah kepada para budak kalian. Berilah mereka makan apa yang kalian makan, dan berilah pakaian dari jenis pakaian yang sama dengan yang kalian pakai. Jika mereka melakukan suatu kesalahan yang tidak bisa kalian maafkan, maka juallah hamba-hamba Allah itu dan janganlah kalian menyiksa mereka.
  • Wahai manusia! Dengarkanlah perkataanku dan perhatikanlah! Kalian tahu bahwa setiap orang muslim adalah saudara bagi orang-orang muslim lain, dan semua kaum muslimin adalah saudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil dari saudaranya kecuali yang telah diberikan kepadanya dengan senang hati. Karena itu janganlah kalian menganiaya diri sendiri.
  • Kalian akan menemui Allah. Maka janganlah kalian kembali sesudahku menjadi sesat, sebagian kalian memukul tengkuk sebagian yang lain. Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, barangkali sebagian orang yang menerima kabar (tidak langsung) lebih mengerti daripada orang yang mendengarnya (secara langsung). Kalian akan ditanya tentang aku, maka apakah yang hendak kalian katakan?Maka mereka yang hadir pada waktu itu serentak menjawab: "Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan (risalah), telah menunaikan amanat dan memberi nasehat." Kemudian seraya menunjuk ke arah langit dengan jari telunjuknya, Nabi SAW bersabda: "Yaa Allah, saksikanlah, yaa Allah, saksikanlah, yaa Allah, saksikanlah." (Dikutip dari Shahih Muslim).

Sungguh kalimat-kalimat yang disampaikan beliau di padang Arafah itu begitu indah. Beliau bukan saja berbicara kepada mereka yang hadir di padang Arafah, tetapi juga kepada semua generasi pelaku sejarah sesudah mereka. Dari wajah-wajah mereka Rasulullah SAW dapat melihat generasi-generasi mendatang dan dunia Islam yang besar yang akan memenuhi belahan Timur dan Barat dari muka bumi ini.

Kepada mereka semua Rasulullah SAW menyampaikan khutbah perpisahannya: "Wahai umat manusia, dengarkanlah perkataanku1. Mungkin sehabis tahun ini aku tidak bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selama-lamanya."
Dunia terdiam mendengarkan khutbah beliau. Semuanya mendengarkan kalimat perpisahan yang keluar dari lisan suci beliau SAW, setelah dunia dan seisinya berbahagia dengan kehadirannya selama 23 tahun. Itulah, mengapa haji itu dinamakan Haji Wada'. Yaitu haji perpisahan. Dengan ungkapan yang singkat tapi sarat makna, beliau tanamkan prinsip-prinsip Islam yang dibawanya dan diperjuangkannya selama ini. Wallahu a'lam.

(Disarikan dari Sirah Nabawiyah, karya Dr. M. Sa'id Ramadhan AlButhy)

Al-Qur'an Di Mata Para Sahabat Rasulullah

Ketika dakwah yang diemban oleh Rasulullah saw berhasil ditancapkan di semenanjung arab, terutama di dua kota al-haram (kota Mekkah dan Madinah) dalam kurun waktu yang singkat, dengan dinaungi Al-Quran, akhirnya mampu melahirkan satu generasi manusia, generasi –yang menurut bahasa Sayyid Qutb- yang unik; generasi sahabat Rasulullah SAW, Ridhwanullahi alaihim, yaitu suatu generasi yang paling istimewa di dalam sejarah Islam dan di dalam sejarah kemanusiaan seluruhnya.

Sebuah Generasi yang tidak akan pernah muncul kembali sesudahnya, sekalipun ada namun segolongan besar manusia, di satu waktu dan satu tempat yang tertentu seperti yang telah muncul di era awal dakwah.

Generasi yang lahir dengan fakta dan realita nyata bukan sekedar dongengan dan khayalan, mereka hidup dalam satu lingkungan dan komunitas yang benar-benar nyata bukan sekedar cerita dan bualan belaka. Kisah mereka sangatlah terang seterang sinar matahari di siang hari. Generasi yang kelak menjadi contoh dan tauladan sepanjang masa, sehingga dengan itu semua kita perlu memperhatikan dan merenungkannya dan menyelami rahasia dibalik keberhasilan mereka menjadi generasi yang unik.

Sebenarnya sumber pokok yang membuat generasi pertama menjadi generasi unik adalah Al-Quran, hanya Al-Quran yang menjadi sumber panduan, perjalanan hidup dan prilaku mereka. walaupun bukan berarti pada saat itu umat manusia di zaman itu tidak memiliki kebudayaan, tidak memiliki peradaban dan tidak punya buku karangan!

Karena kebudayaan Romawi sebagai Negara adi daya saat itu, buku-buku dan undang-undangnya dijadikan kiblat dan panduan hidup oleh orang-orang Eropa. Peradaban Yunani (Greek), falsafah dan kebudayaannya, yang juga masih menjadi sumber pemikiran Barat hingga sekarang, bahkan juga ada peradaban Persia yang kebudayaannya, keseniannya, sajaknya, syair dan dongengnya, serta kepercayaan dan sistem perundangannya menjadi acuan, serta peradaban dan kebudayaan lainnya, seperti India, China dan lain-lainnya.

Romawi dan Persia berada di sekeliling semenanjung Arab, baik di utara maupun di selatan, ditambah lagi oleh agama Yahudi dan Nasrani yang telah lama berada di tengah-tengah semenanjung arab.

Adanya Kitabullah (Al-Quran) merupakan "planning" yang telah ditentukan dan diprogram oleh Allah untuk mengubah peradaban yang telah gagal menuntun manusia pada hidayah Allah. Dan diutusnya Rasulullah saw sebagai nabi akhir zaman guna menjelaskan maksud diturunkannya Al-Quran kepada mereka; membentuk satu generasi yang bersih hatinya, bersih pemikirannya, bersih pandangan hidupnya, bersih perasaannya, dan mumi jalan hidupnya dari segala unsur yang yang bertolak belakang dengan Al-Quranul Karim.

Dan subhanallah dalam waktu 23 tahun generasi sahabat-sahabat berhasil mengubah cara pandang, gaya hidup dan prilaku ketingkat yang lebih tinggi dan mulia, mereka dengan senang hati menerima Al-Quran, menghafal dan mengamalkannya dalam segala gerak-gerik dan prilaku mereka sehari-hari, menjadi sumber yang tunggal dan panduan semata. Oleh kerana itulah generasi itu telah berhasil membentuk sejarah gemilang di zamannya.

Para sahabat Rasulullah di dalam generasi pertama itu tidak mendekatkan diri mereka dengan Al-Quran dengan tujuan mencari pelajaran dan bacaan belaka, bukan juga dengan tujuan mencari hiburan dan pelipur lara. Tiada seorang pun dari mereka yang belajar Al-Quran dengan tujuan menambah bekal dan bahan ilmu semata-mata untuk ilmu dan bukan juga dengan maksud menambah bahan ilmu dan akademi untuk mengisi dada mereka saja. Namun mereka mempelajari Al-Quran itu dengan maksud hendak belajar bagaimanakah arahan dan perintah Allah dalam urusan hidup peribadinya dan hidup bermasyarakat. Mereka belajar untuk dilaksanakan "sami'na wa 'ata'na, seperti seorang perajurit yang siap menerima "ruh al-istijabah" dan membuka dada untuk selalu mengambil arahan yang turun.

Ruhul istijabah yang hanya mau menerima sepuluh ayat saja dan tidak mau menambahnya sehingga benar-benar dapat dihafal dan dilaksanakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud r.a. Perasaan inilah perasaan belajar untuk melaksanakan, yang telah menambah luasnya lapangan hidup mereka, menambah luasnya ma'rifat dan pengalaman mereka dari ajaran Al-Quran.

Perasaan belajar untuk melaksanakan ini juga yang telah memudahkan mereka bekerja dan meringankan beban mereka yang berat, kerana Al-Quran telah menjadi hati, menjadi daging dan darah mereka. Perasaan yang telah tertanam dalam jiwa mereka hingga meresap menjadi panduan dalam gerak dan melahirkan pelajaran yang memotivasi aktivitas, pelajaran yang bukan sekedar teori yang hanya bersarang di dalam otak kepala manusia atau tertulis di halaman kertas namun menjadi kenyataan yang melahirkan kesan dan peristiwa yang mengubah garisan hidup.
 
Bagaimanakah pandangan para sahabat nabi terhadap Al-Quran, mari kita simak penuturan mereka:

1. Ali bin Abi Thalib dalam memberikan sifat Al-Quran : "Dia adalah kitabullah, didalamnya terdapat kabar –berita- orang-orang sebelum kalian, dan orang-orang setelah kalian, pemberi hukum diantara kalian, dia adalah pemisah yang tidak pernah main-main, barangsiapa yang meninggalkannya karena angkuh maka Allah akan membinasakannya, dan bagi siapa yang mencari hidayah selainya maka Allah akan menyesatkannya, Al-Quran adalah Tali Allah yang erat, Al-Quran adalah pemberi peringatan yang bijaksana, Al-Quran adalah jalan lurus, Al-Quran adalah kitab yang tidak akan melencengkan hawa nafsu, menyimpangkan lisan, dan memberikan kepuasan para ulama, tidak menciptakan keraguan dan tidak akan habis keajaiban-keajaiban yang terkandung didalamnya. Al-Quran adalah kitab yang tidak pernah bosan didengar oleh bangsa Jin sehingga mereka berkata : "Sungguh kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan, memberi petunjuk ke jalan yang lurus maka kami beriman kepadanya". (Surat Al- jin : 1-2). Barangsiapa yang berkata dengannya akan benar, yang mengamalkannya akan mendapat ganjaran, yang berhukum dengannya akan adil dan yang menyeru kepadanya akan dapat petunjuk kejalan yang lurus…"

2. Abdullah bin Abbas berkata : Allah mengumpulkan dalam Kitab ini ilmu –pengetahuan- para pendahulu dan sekarang, ilmu yang telah terjadi dan akan terjadi, ilmu tentang Sang Pencipta, perintah-Nya dan Ciptaan-Nya…" (Jami Al-Usul : 8 : 464-465)

3. Diriwayatkan oleh Amir bin Wailah bahwa Nafi' bin Abdul Harits bertemu dengan Umar di Asfan –saat itu Umar mengangkatnya menjadi Imam di Mekkah- beliau berkata : "Siapa yang menjadi imam pada penduduk dusun ? dia berkata : Ibnu Ibzi … beliau berkata : Siapa Ibnu Ibzi ? dia berkata : salah satu pemimpin dari pemimpin kami ! beliau berkata : anda telah mengangkat atas mereka seorang pemimpin ? dia berkata : dia adalah seorang qori –hafidz- kitabullah, dia adalah alim dalam ilmu Faraidl, Umar berkata : adapun Nabi kalian bersabda : "Sesungguhnya Allah telah mengangkat suatu kaum dengan Kitab ini dan menghinakan kaum lainnya.." ( Jami' Al-Usul : 8 : 507)

4. Diriwayatkan oleh Abu Al-Aswad Ad-Duuli berkata : Abu Musa Al-Asy'ari diutus kepada para huffadz kota Basrah, maka menemui 300 orang yang telah hafal Al-Quran, maka beliau berkata : kalian adalah umat yang dipilih dari kota Basrah, menghafal Al-Quran karena itu bacalah dengan baik dan janganlah memanjang-manjangkan bacaan sehingga hati kalian menjadi keras seperti umat sebelum kalian.." (Jami Al-Usul : 2 : 452)

5. Aisyah –RA- berkata : "Abu Bakar jika membaca Al-Quran selalu menangis baik dalam sholat atau lainnya. Beliau juaga berkata : "Al-Quran lebih mulia daripada hilangnya akal manusia…". (Jami Al-Usul : 2 : 466-467)

6. Asma binti Abu Bakar –RA- berkata : "Tidak ada seorangpun dari salafussolih tidak tergerak dan merasakan kenikmatan saat membaca Al-Quran, namun mereka selalu menangis dan bergetar kemudian kulit dan hati mereka lunak dengan menyebut nama Allah". (Jami Al-Usul : 2 : 467)

7. Hudzaifah bin Al-Yaman berkata : "Wahai sekalian para huffadzul Quran, beristiqomahlah kalian karena kalian telah melangkah lebih jauh, jika kalian mengambil jalan kanan lalu kekiri maka sesungguhnya kalian telah tersesat dalam kesesatan yang jauh". (Jami Al-Usul : 2 : 471)

8. Ibnu Abbas berkata : "Para penghafal Al-Quran merupakan para pendamping majlis Umar dan musyawarah, orang tua dan kalangan muda". (At-Tibyan fi Adab Hamlatil Al-Quran, Imam Nawawi : 11)

9. Berkata Al-Hasan bin Ali : "sesungguhnya umat sebelum kalian memandang Al-Quran sebagai surat dari Tuhan mereka, mereka mendatabburkannya di malam hari dan mencarinya disiang hari –mempelajarinya-." (At-Tibyan : 28)

10. Sekelompok manusia dari Yaman menghadap Abu Bakar Ash-Shiddiq, mereka membaca Al-Quran sambil menangis, maka Abu Bakar berkata : begitulah kami dahulu. (At-Tibyan : 28).

11. Seseorang berkata kepada Abdullah bin Mas'ud : "Saya membaca Al-Quran –surat al-mufashol- pada rakaat pertama –al-mufashol adalah surat-surat pendek dalam Al-Quran mulai dari surat Al-Hujurat hingga An-Naas, dinamakan demikian karena banyaknya pemisahan antara surat dengan basmalah- maka Ibnu Mas'ud berkata kepadanya : Demikianlah, demikianlah Syair, sesungguhnya sebagian kaum ada yang membaca Al-Quran tidak sampai tenggorokan mereka, seandainya masuk kedalam hati maka akan bersih hatinya dan bermanfaat". (At-Tibyan : 49)

12. Abdullah bin Mas'ud berkata : "Seorang hamba tidak akan ditanya akan dirinya kecuali Al-Quran, jika dia mencintainya maka Allah dan Rasul-Nya akan cinta kepadanya, namun jika ia murka kepadanya maka Allah dan Rasul-Nya akan murka juga kepadanya…" (Fadhail Al-Quran, Imam Ibnu Katsir : 6)

13. Abdullah bin Mas'ud berkata tentang sebagian surat yang mulia dan selalu dibacanya dengan melagukannya, yaitu surat : Al-Isro, Al-Kahfi, Maryam, Thoha, Al-Anbiya, sesungguhnya kesemuanya itu merupakan punggung utama dan merupakan taladi". (Fadhail Al-Quran : 25)

14. Ibnu Abbas berkata : "Sekiranya para penghafal Al-Quran mengambilny adengan benar dan yang layak baginya maka Allah akan cinta kepada mereka, namun sebagian mereka banyak yang mencari dunia sehingga Allah murka kepada mereka dan menghinakannya dihadapan manusia". (Tafsir Al-Qurtubi : 1 :20)

15. Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata : "Tidak layak bagi penghafal Al-Quran masuk ke dalam lingkaran orang yang lalai, tidak ikut bodoh bersama orang-orang yang bodoh, namun memiliki sifat pemaaf dan melebarkan tangan melalui kebenaran Al-Quran, karena di dalam mulutnya ada kalam Allah". (Al-Qurtubi : 1 : 21)

16. Dari Abdullah bin Mas'ud berkata : "Sesungguhnya pada awal kami sangat sulit Al-Quran namun mudah bagi kami mengamalkannya, namun umat setelah kami mudah bagi mereka menghafal Al-Quran namun sulit bagi mereka untuk mengamalknnya". (Al-Qurtubi : 1 : 40)

17. Abdullah bin Mas'ud berkata : "Jika kalian menginginkan ilmu maka carilah Al-Quran karena didalamnya terdapat ilmu umat dahulu dan mendatang". (Ihya Ulumuddin : 1 : 498)

18. Anas bin Malik berkata : "Betapa banyak orang yang membaca Al-Quran namun Al-Quran melaknatnya". (Al-Ihya : 1 : 499)

19. Abdullah bin Umar bin Al-Khattab berkata : "Kami hidup pada zaman yang panjang dan diantara kami ada yang diberi iman lebih dahulu sebelum Al-Quran, lalu turunlah surat kepada nabi Muhammad saw hingga bisa belajar yang halal dan haram, perintah dan larangan, apa yang seharusnya dilakukan dari sisinya, namun ada sebagain kalian seperti yang saya lihat yang diberi lebih Al-Quran sebelum iman, dia membaca antara surat Al-Fatihah hingga akhir namun tidak memahami mana perintah dan larangan, dan apa yang seharusnya dia lakukan darinya…? (Al-Ihya : 1 : 500)

20. Utsman bin Affan dan Hudzaifah bin Al-Yaman berkata : "Seandainya hati-hati itu bersih maka tidak akan pernah merasa puas dalam membaca Al-Quran". (Al-Ihya : 1 " 522)

21. Abdullah bin Mas'ud berkata : "Sesungguhnya Al-Quran itu merupakan tempat pendidikan dari Allah barangsiapa yang masuk ke dalamnya maka ia akan aman." (AZ-Zuhud, ibnu Al-Mubarak : 272)

22. Abu Hurairah berkata : "Rumah yang dibacakan didalamnya Kitabullah maka akan berlimpahlah kebaikan dan didatangi para Malaikat serta syetan akan keluar darinya..sedangkan rumah yang tidak pernah dibacakan didalmnya Kitabullah maka penghuninya akan merasa sempit, sedikit kebaikannya, syetan akan singgah didalamnya sedangkan para malaikat akan keluar.." (Az-Zuhud, Ibnu Al-Mubarak : 273)

23. Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata : "Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka derajatnya akan setara dengan kenabian namun dia tidak diberi wahyu, dan barangsiapa yang membaca Al-Quran lalu dia melihat salah seorang dari makhluk Allah yang diberikan lebih baik maka sungguh ia telah menghinakan kebesaran Allah, dan besar dosa dalam menghina Allah, tidak layak begi penghafal Al-Quran tidak mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia, tidak membatasi dirinya dari mereka yang membatasi dirinya, namun hendaknya mau memaafkan dan melebarkan tangan." (Az-Zuhud : 275-276)

Sumber asal: http://www.al-ikhwan.net

Detik-Detik Terakhir Kewafatan Rasulullah SAW

Daripada Ibnu Mas'ud r.a., bahawasanya dia berkata:   "Ketika ajal Rasulullah saw sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aishah r.a
Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda: Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah."  
"Allah berfirman: Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa."  
Kemudian kami bertanya:   "Bilakah ajal baginda ya Rasulullah?"  
Baginda menjawab:   "Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyila."  
Kami bertanya lagi:   "Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah?"  
Rasulullah menjawab:   "Salah seorang ahli bait."  
Kami bertanya:   "Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?"
Baginda menjawab:   "Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah."  
Kami bertanya:   "Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?"   Kami menangis dan Rasulullah saw pun turut menangis.
Kemudian baginda bersabda:   "Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku. Kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya.
Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua."  

SEMAKIN TENAT
  Semenjak hari itu, Rasulullah saw bertambah sakitnya yang ditanggungnya selama 18 hari. Setiap hari, ramai yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari Isnin, disaat baginda menghembuskan nafasnya yang terakhir.   Sehari menjelang baginda wafat iaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah selesai mengumandangkan azannya, dia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah, kemudian memberi salam:   "Assalamualaikum ya Rasulullah?"  
Kemudian dia berkata lagi:   "Assolah yarhamukallah."  
Fatimah menjawab:   "Rasulullah dalam keadaan sakit."  
Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid. Ketika bumi terang disinari matahari siang, maka Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu dia berkata seperti perkataan yang tadi.
Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh dia masuk.   Setelah Bilal bin Rabah masuk,
Rasulullah saw bersabda:   "Saya sekarang berada dalam keadaan sakit. Wahai Bilal, kamu perintahkan sahaja agar Abu Bakar menjadi imam dalam solat."  
Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata:   "Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?"   Kemudian dia memasuki masjid dan memberitahu Abu Bakar agar beliau menjadi imam dalam solat tersebut.   Ketika Abu Bakar r.a. melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, dia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu dia menjerit dan akhirnya dia pengsan. Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi bising sehingga terdengar oleh Rasulullah saw.  
Baginda bertanya:   "Wahai Fatimah, suara apakah yang bising itu?"  
Siti Fatimah menjawab:   "Orang-orang menjadi bising dan bingung kerana Rasulullah saw tidak ada bersama mereka."  
Kemudian Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Talib dan Abbas r.a. Sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda solat dua rakaat.
Setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda:   "Ya ma aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah. Sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua, setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini."  

MALAIKAT MAUT DATANG BERTAMU
Pada hari esoknya iaitu pada hari Isnin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya dia turun menemui Rasulullah saw dengan berpakaian sebaik-baiknya.   Dan Allah menyuruh Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah saw dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka dia dibolehkan masuk. Tetapi jika Rasulullah saw tidak mengizinkannya, dia tidak boleh masuk dan hendaklah dia kembali sahaja.  
Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Dia menyamar sebagai seorang biasa. Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah saw,
Malaikat Maut itupun berkata:   "Assalamualaikum wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!"  
Fatimah pun keluar menemuinya dan berkata kepada tamunya itu:   "Wahai Abdullah (hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit."  
Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi:   "Assalamualaikum, bolehkah saya masuk?"  
Akhirnya Rasulullah saw mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah:   "Siapakah yang ada di muka pintu itu?"  
Fatimah menjawab:   "Seorang lelaki memanggil baginda. Saya katakan kepadanya bahawa baginda dalam keadaan sakit. Kemudian dia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma."  
Rasulullah saw bersabda:   "Tahukah kamu siapakah dia?"  
Fatimah menjawab:   "Tidak wahai baginda."  
Lalu Rasulullah saw menjelaskan:   "Wahai Fatimah, dia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur.  
Kemudian Rasulullah saw bersabda:   "Masuklah, wahai Malaikat Maut."  
Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan:   "Assalamualaika ya Rasulullah."  
Rasulullah saw pun menjawab:   "Waalaikassalam ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?"  
Malaikat Maut menjawab:   "Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan. Jika tidak, saya akan pulang."  
Rasulullah saw bertanya:   "Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril?"  
Jawab Malaikat Maut:   "Saya tinggal dia di langit dunia."  
Baru sahaja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril a.s. datang lalu duduk di samping Rasulullah saw.
Maka bersabdalah Rasulullah saw:   "Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahawa ajalku telah dekat?"  
Jibril menjawab:   "Ya, wahai kekasih Allah."  

KETIKA SAKARATUL MAUT:  
Seterusnya Rasulullah saw bersabda:   "Beritahu kepadaku wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya?"  
Jibril pun menjawab:   "Bahawasanya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu."  
Baginda saw bersabda:   "Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku?"  
Jibril menjawab lagi:   "Bahawasanya pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu."  
Baginda saw bersabda lagi:   "Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang disediakan Allah untukku?"  
Jibril menjawab:   "Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti."  
Kemudian Rasulullah saw bersabda:   "Segala puji dan syukur aku panjatkan untuk Tuhanku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku."  
Jibril a.s. bertanya:   "Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan?"  
Rasulullah saw menjawab:   "Tentang kegelisahanku. Apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?"  
Jibril menjawab:   "Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman:   Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu."  
Maka berkatalah Rasulullah saw:   "Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku."  
Lalu Malaikat Maut pun mendekati Rasulullah saw.  
Ali r.a. bertanya:   "Wahai Rasulullah saw, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya?"  
Rasulullah menjawab:   "Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga."  
Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah saw. Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata:   "Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut."  
Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril a.s. memalingkan mukanya.
Lalu Rasulullah saw bertanya:   "Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku?"  
Jibril menjawab:   "Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?"  
Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah saw.  

KESEDIHAN SAHABAT
Berkata Anas r.a.:   "Ketika aku lalu di depan pintu rumah Aisyah r.a., aku terdengar dia sedang menangis sambil mengatakan:   Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera, wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum, wahai orang-orang yang telah memilih tikar daripada singgahsana, wahai orang-orang yang jarang tidur diwaktu malam kerana takut Neraka Sa'ir."  
Dikisahkan dari Said bin Ziyad dari Khalid bin Saad, bahawasanya Muaz bin Jabal r.a. telah berkata:   "Rasulullah saw telah mengutusku ke Negeri Yaman untuk memberikan pelajaran agama di sana. Maka tinggallah aku di sana selama 12 tahun. Pada satu malam aku bermimpi dikunjungi oleh seseorang. Kemudian orang itu berkata kepadaku:   Apakah anda masih lena tidur juga wahai Muaz, padahal Rasulullah saw telah berada di dalam tanah?"  
Muaz terbangun dari tidur dengan rasa takut, lalu dia mengucapkan:   "A'uzubillahi minasy syaitannir rajim."   Lalu setelah itu dia mengerjakan solat.   Pada malam seterusnya, dia bermimpi seperti mimpi malam yang pertama.
Muaz berkata:   "Kalau seperti ini, bukanlah dari syaitan."   Kemudian dia memekik sekuat-kuatnya, sehingga didengar sebahagian penduduk Yaman.   Pada keesokan harinya, orang ramai berkumpul lalu Muaz berkata kepada mereka:   "Malam tadi dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sukar untuk difahami. Dahulu, bila Rasulullah saw bermimpi yang sukar difahami, baginda membuka Mushaf (al-Quran). Maka berikanlah Mushaf kepadaku."   Setelah Muaz menerima Mushaf, lalu dibukanya. Maka nampaklah firman Allah yang bermaksud:   "Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula."   (Surah Az-Zumar: ayat 30)  
Maka menjeritlah Muaz, sehingga dia tidak sedarkan diri. Setelah dia sedar kembali, dia membuka Mushaf lagi dan dia nampak firman Allah yang berbunyi:   "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada orang-orang yang bersyukur?"   (Surah Al-lmran: ayat 144)   Maka Muaz pun menjerit lagi:   "Aduhai Abal-Qassim. Aduhai Muhammad."  
Kemudian dia keluar meninggalkan Negeri Yaman menuju ke Madinah. Ketika dia akan meninggalkan penduduk Yaman, dia berkata:   "Seandainya apa yang ku lihat ini benar, maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan kita akan menjadi seperti biri-biri yang tidak ada pengembala."  
Kemudian dia berkata:   "Aduhai, sedihnya berpisah dengan Nabi Muhammad saw."   Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka. Di saat dia berada pada jarak lebih kurang tiga hari perjalanan dari Kota Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya suara halus dari tengah-tengah lembah yang mengucapkan firman Allah yang bermaksud:   "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."  
Lalu Muaz mendekati sumber suara itu. Setelah berjumpa, Muaz bertanya kepada orang tersebut:   "Bagaimana khabar Rasulullah saw?"   Orang tersebut menjawab:   "Wahai Muaz, sesungguhnya Muhammad saw telah meninggal dunia."   Mendengar ucapan itu, Muaz terjatuh dan tak sedarkan diri. Lalu orang itu menyedarkannya. Dia memanggil Muaz:   "Wahai Muaz, sedarlah dan bangunlah."  
Setelah Muaz sedar kembali, orang tersebut lalu menyerahkan sepucuk surat untuknya yang berasal dari Abu Bakar As-siddiq, dengan cop dari Rasulullah saw. Tatkala Muaz melihatnya, dia lalu mencium cop tersebut dan diletakkan di matanya. Kemudian dia menangis dengan tersedu-sedu.   Setelah puas dia menangis, dia pun melanjutkan perjalanannya menuju Kota Madinah. Muaz sampai di Kota Madinah pada waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan azan Subuh. Bilal mengucapkan:   "Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah?"   Muaz menyambungnya:   "Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah."   Kemudian dia menangis dan akhirnya dia jatuh dan tak sedarkan diri lagi.  
Pada saat itu, di samping Bilal bin Rabah ada Salman Al-Farisy r.a. lalu dia berkata kepada Bilal:   "Wahai Bilal, sebutkanlah nama Muhammad dengan suara yang kuat dekatnya. Dia adalah Muaz yang sedang pengsan."   Setelah Bilal selesai azan, dia mendekati Muaz, lalu dia berkata:   "Assalamualaika, angkatlah kepalamu wahai Muaz, aku telah mendengar dari Rasulullah saw, baginda bersabda: Sampaikanlah salamku kepada Muaz."   Maka Muaz pun mengangkatkan kepalanya sambil menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahawa dia telah menghembuskan nafas yang terakhir. Kemudian dia berkata:   "Demi ayah dan ibuku, siapakah yang mengingatkan aku pada baginda, ketika baginda akan meninggalkan dunia yang fana ini, wahai Bilal? Marilah kita pergi ke rumah isteri baginda Siti Aisyah r.a."   S
etelah sampai di depan pintu rumah Siti Aisyah, Muaz mengucapkan:   "Assalamualaikum ya ahlil bait, wa rahmatullahi wa barakatuh."   Yang keluar ketika itu adalah Raihanah, dia berkata:   "Aisyah sedang pergi ke rumah Siti Fatimah."   Kemudian Muaz menuju ke rumah Siti Fatimah dan mengucapkan:   "Assalamualaikum ya ahlil bait."  
Siti Fatimah menyambut salam tersebut, kemudian dia berkata:   "Rasulullah saw bersabda: Orang yang paling alim di antara kamu tentang perkara halal dan haram adalah Muaz bin Jabal. Dia adalah kekasih Rasulullah saw."   Kemudian Fatimah berkata lagi:   "Masuklah wahai Muaz."   Ketika Muaz melihat Siti Fatimah dan Aisyah r.a., dia terus pengsan dan tak sedarkan diri. Setelah dia sedar, Fatimah lalu berkata kepadanya:   "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Sampaikanlah salam saya kepada Muaz dan khabarkan kepadanya bahawasanya dia kelak dihari kiamat sebagai imam ulama."   Kemudian Muaz bin Jabal keluar dari rumah Siti Fatimah menuju ke arah kubur Rasulullah saw.  

(Dipetik dari buku 1001 Duka - Himpunan Kisah-kisah Menyayat Hati)

my slide

Hai..it's me Ryustik... Slideshow: Ryu’s trip to Jakarta was created with TripAdvisor TripWow!

Ukhuwah

Rasulullah SAW bersabda, “Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada’, tetapi para nabi dan syuhada iri pada mereka. “ketika ditanya oleh para sahabat, Rasulullah SAW menjawab, ”mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah” [HR. Tirmidzi]

Feerburner

Fastabiqul Khoirot... Headline Animator

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India